Profil Penggunaan Antibiotik pada Pasien Demam Tifoid dengan Metode ATC/DDD dan DU di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Advent Manado.
DOI:
https://doi.org/10.57207/yqrw2215Abstract
Di negara berkembang seperti Indonesia, demam tifoid penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi masih menjadi masalah kesehatan. Antibiotik termasuk ampisilin, amoksisilin, fluorokuinolon, kloramfenikol, dan sefalosporin generasi ketiga sering digunakan untuk mengobati demam tifoid. Dalam penelitian ini, teknik ATC/DDD dan 90% DU digunakan untuk memperkirakan profil konsumsi antibiotik pasien demam tifoid. Sampel data medis dari 70 orang antara Mei dan Oktober 2025 digunakan dalam penelitian kuantitatif deskriptif ini. Di Rumah Sakit Advent Manado, pasien demam tifoid menerima sembilan antibiotik berbeda; siprofloksasin adalah yang paling sering digunakan, diikuti oleh seftriakson dan sefiksim, dengan total konsumsi obat sebesar 94,56 DDD/100 hari rawat inap. Siprofloksasin, seftriakson, Sefiksim, metronidazol, tiamfenikol, dan levofloksasin termasuk di antara antibiotik dengan tingkat penggunaan obat sebesar 90%.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Emily Neysa Toba, Deby Afriani Mpila, Fridly Manawan (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang mempublikasikan naskahnya di Jurnal Lentera Farma menyetujui ketentuan berikut: Penulis memegang hak cipta dan memberikan hak publikasi pertama kepada jurnal dengan lisensi Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International (CC BY-SA 4.0) yang memungkinkan orang lain untuk membagikan karya tersebut dengan pengakuan kepenulisan karya dan publikasi awal di jurnal ini.






